News

Tokoh Lintas Agama Bentuk Pergerakan Indonesia Maju

c74b3cb2-df3d-4d78-b4a2-b5794f5d705b_169Jakarta — Sebanyak 45 tokoh dan aktivis lintas agama, suku, dan profesi mendeklarasikan Pergerakan Indonesia Maju (PIM). Gerakan ini dimaksudkan untuk menggalang potensi kemajemukan dan kemajuan bangsa.
Peresmian berdirinya pergerakan ini ditandai dengan pendatanganan surat keterangan notaris oleh Ketua PIM Prof Din Syamsuddin. Penandatanganan surat keterangan tersebut sekaligus menegaskan bahwa PIM merupakan perkumpulan yang diakui negara.

Penandatanganan disaksikan langsung puluhan tokoh lintas agama dan suku yang juga menjadi pengurus dan anggota organisasi ini. ”Kami bersepakat mendirikan gerakan nasional yang diberi nama Pergerakan Indonesia Maju,” ujar Din dalam jumpa pers, di Jakarta, Senin (4/4).

Selain Din yang duduk sebagai ketua Dewan Nasional PIM, ada sejumlah nama lain yang berada di jajaran pergerakan tersebut, di antaranya Siti Zuhro (wakil ketua), Philip Wijaya (wakil ketua), Ali Masykur Musa (sekretaris), Umat Husin (wakil sekretaris), Amanah Abdul Kadir (wakil sekretaris), Ulla Nuchrawaty (bendahara), Handoyo (wakil bendahara), dan Lieus Sungkharisma (wakil bendahara).

Selain nama-nama tersebut,  terdapat 36 tokoh lain yang menjadi anggota Dewan Nasional PIM.

Din mengatakan, perkumpulan tokoh lintas agama dan suku ini diniatkan untuk aktif menyelesaikan permasalahan kebangsaan. Ia melihat, masih banyak kesenjangan yang  terjadi dalam kehidupan bernegara di Indonesia. Bahkan, ia merasa sudah mulai ada gejala defiasi dan distorsi yang hendak menyelewengkan cita-cita dasar Indonesia.

“Kesenjangan itu yang menggerakkan kami yang terdiri dari semua elemen untuk ikut menanggulangi permasalahan bangsa,” kata mantan ketua umum PP Muhammadiyah ini.

Din menekankan, PIM tidak sekadar terdiri atas berbagai pemuka agama, tapi juga tokoh-tokoh suku, ras, dan gender dari seluruh daerah di Indonesia. Menurut dia, PIM yang merupakan perkumpulan resmi dan diakui negara akan memiliki ranah kegiatan yang berbeda dari organisasi-organisasi lain.

Dalam melaksanakan program-program kerjanya, PIM akan dibantu banyak perwakilan di daerah. ”PIM juga akan menjalin kerja sama dengan berbagai pihak demi menyelesaikan permasalahan yang dihadapi bangsa,” kata Din.

Wasekjen Majelis Ulama Indonesia (MUI) sekaligus anggota Dewan Nasional PIM Najamudin Ramli menegaskan, dialog akan menjadi pilihan utama PIM dalam menyelesaikan berbagai permasalahan bangsa. Menurutnya, jalur dialog merupakan pilihan terbaik yang bisa dan seharusnya dilakukan semua elemen, terutama tokoh-tokoh  PIM.

“Kita akan kedepankan pendekatan dialog, sudah bukan waktunya lagi pendekatan kekerasan,” ujar Najamudin kepada Republika.

Ia menuturkan, PIM terdiri atas berbagai elemen. ”Banyak tokoh yang tergabung dalam PIM merupakan aktivis senior serta tokoh berpengaruh, baik di agama maupun suku dan daerah,” katanya.

Karena itu, ia melihat kepengurusan PIM telah menunjukkan nilai-nilai kemajemukan dan kebersamaan Indonesia. Kemajemukan dan kebersamaan itulah, menurutnya, yang akan menjadi sinkronisasi penting untuk siapa pun dalam penyelesaian masalah, termasuk bagi PIM sendiri.

Nantinya, kata Najamudin, semua elemen di kepengurusan dan keanggotaan PIM akan diikutsertakan dalam setiap program. Ia pun berharap kebersamaan dan kemajemukan tersebut senantiasa terjaga.   (wachidah handasah/rpbk/Selasa, 05 April 2016, 14:00 WIB)